Renang Lampung Optimis ke PON
Rabu, 12 Januari 2011
Renang Lampung Optimis ke PON: "Renang Lampung yang akan
menjalani banyak even guna menuju PON 2012 mendatang, optimis mampu
meloloskan atletnya ke pesta olahraga akbar empat tahunan di tanah iar
tersebut. Optimis itu disampaikan pelatih renang Lampung Jaya Musarofah,
Rabu (5/1) petang melalui sambungan telepon di Bandarlampung."
menjalani banyak even guna menuju PON 2012 mendatang, optimis mampu
meloloskan atletnya ke pesta olahraga akbar empat tahunan di tanah iar
tersebut. Optimis itu disampaikan pelatih renang Lampung Jaya Musarofah,
Rabu (5/1) petang melalui sambungan telepon di Bandarlampung."
KONI dan PWI Gelar Diskusi
KONI dan PWI Gelar Diskusi: "Menurut rencana hari ini,
Kamis (6/1) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Tanggamus,
berkerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Perwakilanan
Tanggamus, akan menggelar Diskusi Panel guna membedah prestasi atlet
kabupaten tersebut, yang anjelok alias boncos Pekan Olahraga Provinsi
(Porprov) IV 13-19 Desember 2010 lalu di Tulangbawang."
Kamis (6/1) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Tanggamus,
berkerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Perwakilanan
Tanggamus, akan menggelar Diskusi Panel guna membedah prestasi atlet
kabupaten tersebut, yang anjelok alias boncos Pekan Olahraga Provinsi
(Porprov) IV 13-19 Desember 2010 lalu di Tulangbawang."
Radar Lampung : Polri Cari Rekaman Pengajian Baasyir
Radar Lampung : Polri Cari Rekaman Pengajian Baasyir: "
JAKARTA – Mabes Polri serius mendalami pengakuan salah seorang pelaku perampokan Bank CIMB Niaga Medan yang tertangkap. Kini penyidik Densus 88 Mabes Polri sedang mencari rekaman pengajian Abu Bakar Baasyir di Hamparanperak, Sumatera Utara. Jika rekaman itu didapatkan, polisi yakin Baasyir tak bisa berkelit lagi."
Radar Lampung : MA Bebaskan Prita dari Tuntutan Rp20 M
Radar Lampung : MA Bebaskan Prita dari Tuntutan Rp20 M: "
JAKARTA – Terdakwa kasus pencemaran nama baik terhadap RS Omni Internasional, Prita Mulyasari, bisa bernapas lega. Majelis hakim kasasi Mahkamah Agung (MA) menerima kasasi yang diajukan Prita sekaligus menolak kasasi kubu RS Omni. Putusan ini membuat ibu dua anak itu bebas dari gugatan dan ganti rugi"
Tanggamus Fokuskan Beberapa Cabor
Tanggamus Fokuskan Beberapa Cabor: "Seperti
apa pola pembinaan yang akan diterapkan dalam meningkatkan prestasi
atlet kabupaten Tanggamus pada masa mendatang agar dapat mendulang
medali lebih banyak perlu dicarikan solusinya yang tepat agar apa yang
direncanakan dapat tercapai. Pernyataan tersebut dikemukakan Bupati
Tanggamus H Bambang Kurniawan ST, Kamis (6/1) saat membuka diskusi
tentang peluang dan tantangan pengembangan olahraga Tanggamus pasca
Porprov VI Lampung 2010 di Tulangbawang."
apa pola pembinaan yang akan diterapkan dalam meningkatkan prestasi
atlet kabupaten Tanggamus pada masa mendatang agar dapat mendulang
medali lebih banyak perlu dicarikan solusinya yang tepat agar apa yang
direncanakan dapat tercapai. Pernyataan tersebut dikemukakan Bupati
Tanggamus H Bambang Kurniawan ST, Kamis (6/1) saat membuka diskusi
tentang peluang dan tantangan pengembangan olahraga Tanggamus pasca
Porprov VI Lampung 2010 di Tulangbawang."
Perlu 'Grand Design' Investasi Lampung!
Perlu 'Grand Design' Investasi Lampung!: "'REFLEKSI akhir tahun Gubernur Sjachroedin Z.P. yang menyebut investasi di Lampung 2010 turun drastis memberi isyarat perlunya menyiapkan sebuah grand design investasi untuk daerah ini!' ujar Umar. 'Itu diperlukan karena investasi kegiatan multidimensi, dengan setiap dimensinya harus saling dukung dalam mencapai tujuan!'
'Selama ini cenderung ada persepsi kurang pas dalam promosi investasi, sehingga investor yang datang kebanyakan dari jenis usaha yang butuh lahan luas!' timpal Amir.
'Jadi, sebelum feasibility study-nya menyentuh faktor infrastruktur dan kecukupan energi, banyak investor sudah 'balik kanan' karena tak ada lahan lagi! Apalagi, banyak investasi yang sudah ada pun faktor lahan masih sering jadi masalah!'
'Berarti, dimensi pertama grand design itu harus mengeliminasi kebutuhan lahan yang luas!' tegas Umar. 'Dimensi kedua jenis industri dengan lahan terbatas, paling tepat manufaktur—mengolah bahan-bahan mentah yang tersedia di Lampung sampai jadi produk etalase! Contohnya, Nestle! Masih banyak bahan mentah di Lampung yang bisa mendukung industri manufaktur!'
'Dimensi ketiga tentu kapasitas dukungan secara kuantitatif setiap jenis bahan mentah serta nilai ekonomisnya untuk usaha jangka panjang industri manufaktur!' lanjut Amir.
'Dan berbagai dimensi lagi selain infrastruktur dan energi! Tanpa panduan grand design spesifik memadai plus advantage dan kemudahan yang terjamin bukan janji palsu, suatu daerah bisa kalah dalam bersaing menarik investasi!'
'Grand design investasi terbaik menempatkan setiap investasi sebagai akomodasi peningkatan nilai tambah dan perluasan pasar produk-produk lokal yang ada, hingga sekaligus meningkatkan kesejahteraan rakyat produsen serta warga yang berpartisipasi dalam kehadiran kegiatan usaha baru tersebut!' tegas Umar. 'Jadi, eliminasi kedua dilakukan terhadap investasi yang enklave, tak ada maslahatnya bagi produk dan partisipasi warga lokal—sebaliknya, malah merusak alam, seperti pertambangan di hutan lindung!'
'Usaha lebih baik menarik investor ke Lampung harus dilakukan, karena investasi amat diperlukan untuk membuka lapangan kerja baru dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah!' timpal Amir. 'Dengan grand design yang tepat, akomodasinya kuat terhadap produk dan SDM lokal, menjadikan investasi sebagai stimulan ekonomi masyarakat! Karena itu, jika tahun 2011 tak menaikkan target pemasukan investasi, peningkatan usaha menjadikan Lampung laik dan memikat bagi investasi harus tetap dilakukan!' ***
"
'Selama ini cenderung ada persepsi kurang pas dalam promosi investasi, sehingga investor yang datang kebanyakan dari jenis usaha yang butuh lahan luas!' timpal Amir.
'Jadi, sebelum feasibility study-nya menyentuh faktor infrastruktur dan kecukupan energi, banyak investor sudah 'balik kanan' karena tak ada lahan lagi! Apalagi, banyak investasi yang sudah ada pun faktor lahan masih sering jadi masalah!'
'Berarti, dimensi pertama grand design itu harus mengeliminasi kebutuhan lahan yang luas!' tegas Umar. 'Dimensi kedua jenis industri dengan lahan terbatas, paling tepat manufaktur—mengolah bahan-bahan mentah yang tersedia di Lampung sampai jadi produk etalase! Contohnya, Nestle! Masih banyak bahan mentah di Lampung yang bisa mendukung industri manufaktur!'
'Dimensi ketiga tentu kapasitas dukungan secara kuantitatif setiap jenis bahan mentah serta nilai ekonomisnya untuk usaha jangka panjang industri manufaktur!' lanjut Amir.
'Dan berbagai dimensi lagi selain infrastruktur dan energi! Tanpa panduan grand design spesifik memadai plus advantage dan kemudahan yang terjamin bukan janji palsu, suatu daerah bisa kalah dalam bersaing menarik investasi!'
'Grand design investasi terbaik menempatkan setiap investasi sebagai akomodasi peningkatan nilai tambah dan perluasan pasar produk-produk lokal yang ada, hingga sekaligus meningkatkan kesejahteraan rakyat produsen serta warga yang berpartisipasi dalam kehadiran kegiatan usaha baru tersebut!' tegas Umar. 'Jadi, eliminasi kedua dilakukan terhadap investasi yang enklave, tak ada maslahatnya bagi produk dan partisipasi warga lokal—sebaliknya, malah merusak alam, seperti pertambangan di hutan lindung!'
'Usaha lebih baik menarik investor ke Lampung harus dilakukan, karena investasi amat diperlukan untuk membuka lapangan kerja baru dan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah!' timpal Amir. 'Dengan grand design yang tepat, akomodasinya kuat terhadap produk dan SDM lokal, menjadikan investasi sebagai stimulan ekonomi masyarakat! Karena itu, jika tahun 2011 tak menaikkan target pemasukan investasi, peningkatan usaha menjadikan Lampung laik dan memikat bagi investasi harus tetap dilakukan!' ***
Ekonomi Lampung dalam Telikungan!
Ekonomi Lampung dalam Telikungan!: "
'KENAPA inflasi Bandar Lampung 2010 sampai 9,95%, jauh di atas inflasi nasional 6,96%,' entak Temin. 'Padahal Lampung menurut data BPS pada 2010 masih provinsi termiskin kedua di Sumatera dengan penduduk miskin 18,94%, setelah NAD 20,98%. Di bawah rata-rata nasional 13,33%.'
'Malah data Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terakhir yang bisa diakses dari www.bps.go.id, Lampung terbawah dari 10 provinsi di Sumatera dengan skor 70,30, di bawah NAD 70,76. Rata-rata nasional 71,17,' timpal Temon. 'Dengan kondisi sosial-ekonomi di bawah rata-rata nasional itu warga Lampung harus menanggung beban hidup jauh di atas rata-tara nasional! Belum lagi, inflasi tertinggi berasal dari kelompok pangan, 15,64% (Kompas, 4-1), warga lapisan terbawah alokasi terbesar pendapatannya hanya untuk pangan!'
'Itu karena ekonomi Lampung dalam telikungan! Telikung itu hambatan ganda atas gerakan!' sela Teman. 'Dalam ekonomi, hambatan atas suplai barang harus dihilangkan! Dari sentra produsen di Jawa akibat iklim truk harus antre lebih lama di Merak. Lalu dari Bakauheni harus memutar lewat jalan rusak di Ketapang, menambah waktu jalan truk tiga jam! Jalan rusak juga menelikung suplai dari sentra produksi lokal! Semua biaya ekstra dihitung pedagang yang tak mau rugi, bebannya dialihkan ke konsumen!'
'Akibat telikungan itu kelompok warga terlemah kena imbas terparah!' timpal Temin.
'Memang! Tapi tingginya inflasi di Lampung tak sebatas akibat faktor suplai! Sisi permintaan juga signifikan!' tegas Teman. 'Terlepas dari kelompok lemah penderita itu, petani berlahan menengah ke atas 2010 menikmati booming harga komoditas dengan NTP (nilai tukar petani) tertinggi di Indonesia—117,03 (September). Ini di atas DIY 114,22 dan Kalsel 107,11. Daya beli kelompok ini di puncak dengan harga karet di atas 5 dolar AS per kg—tertinggi sepanjang abad! CPO 1.200 dolar AS per ton. Diikuti kopi di atas Rp15 ribu per kg, kakao di atas Rp20 ribu, dan lada hitam di atas Rp35 ribu per kg!'
'Kelompok booming itu jumlahnya besar, lebih 70% tanaman karet di Lampung milik rakyat!' timpal Temin. 'Jumlah uang tunai besar di tangan rakyat, dampak inflatoarnya tinggi pula!'
'Itu dia! Karena ekonomi dalam telikungan, nilai tambah booming yang terjadi ditelan inflasi nyaris 10%, jadi kurang efektif bagi stimulus gerak maju ekonomi lokal!' tukas Teman. 'Lain hal jika sektor publik berfungsi baik, suplai barang lancar dan inflasi lebih terkendali, kelompok lemah tak terlalu menderita, nilai tambah booming komoditas bisa menyumbang pertumbuhan cukup signifikan!' ***
"
'KENAPA inflasi Bandar Lampung 2010 sampai 9,95%, jauh di atas inflasi nasional 6,96%,' entak Temin. 'Padahal Lampung menurut data BPS pada 2010 masih provinsi termiskin kedua di Sumatera dengan penduduk miskin 18,94%, setelah NAD 20,98%. Di bawah rata-rata nasional 13,33%.'
'Malah data Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terakhir yang bisa diakses dari www.bps.go.id, Lampung terbawah dari 10 provinsi di Sumatera dengan skor 70,30, di bawah NAD 70,76. Rata-rata nasional 71,17,' timpal Temon. 'Dengan kondisi sosial-ekonomi di bawah rata-rata nasional itu warga Lampung harus menanggung beban hidup jauh di atas rata-tara nasional! Belum lagi, inflasi tertinggi berasal dari kelompok pangan, 15,64% (Kompas, 4-1), warga lapisan terbawah alokasi terbesar pendapatannya hanya untuk pangan!'
'Itu karena ekonomi Lampung dalam telikungan! Telikung itu hambatan ganda atas gerakan!' sela Teman. 'Dalam ekonomi, hambatan atas suplai barang harus dihilangkan! Dari sentra produsen di Jawa akibat iklim truk harus antre lebih lama di Merak. Lalu dari Bakauheni harus memutar lewat jalan rusak di Ketapang, menambah waktu jalan truk tiga jam! Jalan rusak juga menelikung suplai dari sentra produksi lokal! Semua biaya ekstra dihitung pedagang yang tak mau rugi, bebannya dialihkan ke konsumen!'
'Akibat telikungan itu kelompok warga terlemah kena imbas terparah!' timpal Temin.
'Memang! Tapi tingginya inflasi di Lampung tak sebatas akibat faktor suplai! Sisi permintaan juga signifikan!' tegas Teman. 'Terlepas dari kelompok lemah penderita itu, petani berlahan menengah ke atas 2010 menikmati booming harga komoditas dengan NTP (nilai tukar petani) tertinggi di Indonesia—117,03 (September). Ini di atas DIY 114,22 dan Kalsel 107,11. Daya beli kelompok ini di puncak dengan harga karet di atas 5 dolar AS per kg—tertinggi sepanjang abad! CPO 1.200 dolar AS per ton. Diikuti kopi di atas Rp15 ribu per kg, kakao di atas Rp20 ribu, dan lada hitam di atas Rp35 ribu per kg!'
'Kelompok booming itu jumlahnya besar, lebih 70% tanaman karet di Lampung milik rakyat!' timpal Temin. 'Jumlah uang tunai besar di tangan rakyat, dampak inflatoarnya tinggi pula!'
'Itu dia! Karena ekonomi dalam telikungan, nilai tambah booming yang terjadi ditelan inflasi nyaris 10%, jadi kurang efektif bagi stimulus gerak maju ekonomi lokal!' tukas Teman. 'Lain hal jika sektor publik berfungsi baik, suplai barang lancar dan inflasi lebih terkendali, kelompok lemah tak terlalu menderita, nilai tambah booming komoditas bisa menyumbang pertumbuhan cukup signifikan!' ***
Petani Lampung Korban Jarak Pagar!
'PEMERINTAH dalam skala nasional tahun 2007 mengampanyekan tanaman jarak pagar untuk biofuel—energi terbarukan—bahan bakar diesel alternatif!' ujar Umar. 'Dengan gaya sosialisasi pemerintah yang meyakinkan cerahnya masa depan komoditas itu, banyak petani di Lampung terpikat menanam jarak pagar! Tapi kini, mereka terpaksa membabat kembali tanaman jarak pagar karena selain proses pascapanennya susah, harganya juga rendah, Rp1.000—Rp1.500/kg!'
'Harganya amat jauh dari bahan baku biofuel lain, CPO (sawit) yang kini di kisaran 1.200 dolar AS/ton atau Rp10.800/kg di pasar internasional!' timpal Amir. 'Dengan disparitas harga sedemikian jauh pasti ada yang tak beres di balik sosialisasi dan tindak lanjutnya oleh pemerintah! Ketakberesan kerja pemerintah itu berakibat mengorbankan petani!'
'Salah satu kelalaian pemerintah, sosialisasi yang dilakukan tidak segera diikuti dengan pengadaan pabrik pengolahan biji jarak menjadi biofuel di kawasan produsen dengan skala sesuai potensi produksinya!' tegas Umar. 'Ketika produksi biji jarak seantero negeri melimpah tak jelas di mana pabrik pengolahannya, harganya jatuh!'
'Padahal, dibanding minyak jelantah restoran cepat saji di Bogor bisa diolah jadi biofuel untuk bus kota Pakuan Ekspres, pabrik biji jarak untuk biofuel juga seharusnya bisa berskala kecil dengan konsumen tertentu pasar lokal!' timpal Amir.
'Tapi pemerintah teledor, tak memfasilitasi pengadaan pabrik biji jarak berkapasitas sesuai potensi kawasannya, para petani dikorbankan secara konyol! Lebih tragis, teknik mengupas biji jarak dari kulitnya yang praktis tak diajarkan, hingga dikupas tangan dua orang sehari cuma dapat 10 kg—jauh dari nilai ekonomis pekerjanya!'
'Jangan-jangan nasib malang petani Lampung seperti di Kecamatan Katibung Lampung Selatan yang di sejumlah desa pada setiap desa bertanam jarak pagar 50 sampai 80 hektare, masalahnya karena belum ada pabrik biji jarak berskala kecil dan teknik praktis atau teknologi tepat guna untuk mengupasnya!' tukas Umar. 'Kalau itu masalah utamanya, berarti pemerintah benar-benar ngawur ketika tiga tahun lalu menyosialisasikan kepada petani agar menanam jarak pagar!'
'Nasi telah menjadi bubur! Perlu dicatat, jarak pagar kasus kesekian yang mengorbankan petani Lampung! Sebelumnya lewat lembaga UKM, petani Lampung Barat jadi korban kegiatan menanam sisal rami!' timpal Amir. 'Agar jangan terulang, lapisan pemerintah terbawah—kepala desa, camat, dan bupati—diharapkan bisa memagari warganya dari segala jenis pepesan kosong!' ***
"
'Harganya amat jauh dari bahan baku biofuel lain, CPO (sawit) yang kini di kisaran 1.200 dolar AS/ton atau Rp10.800/kg di pasar internasional!' timpal Amir. 'Dengan disparitas harga sedemikian jauh pasti ada yang tak beres di balik sosialisasi dan tindak lanjutnya oleh pemerintah! Ketakberesan kerja pemerintah itu berakibat mengorbankan petani!'
'Salah satu kelalaian pemerintah, sosialisasi yang dilakukan tidak segera diikuti dengan pengadaan pabrik pengolahan biji jarak menjadi biofuel di kawasan produsen dengan skala sesuai potensi produksinya!' tegas Umar. 'Ketika produksi biji jarak seantero negeri melimpah tak jelas di mana pabrik pengolahannya, harganya jatuh!'
'Padahal, dibanding minyak jelantah restoran cepat saji di Bogor bisa diolah jadi biofuel untuk bus kota Pakuan Ekspres, pabrik biji jarak untuk biofuel juga seharusnya bisa berskala kecil dengan konsumen tertentu pasar lokal!' timpal Amir.
'Tapi pemerintah teledor, tak memfasilitasi pengadaan pabrik biji jarak berkapasitas sesuai potensi kawasannya, para petani dikorbankan secara konyol! Lebih tragis, teknik mengupas biji jarak dari kulitnya yang praktis tak diajarkan, hingga dikupas tangan dua orang sehari cuma dapat 10 kg—jauh dari nilai ekonomis pekerjanya!'
'Jangan-jangan nasib malang petani Lampung seperti di Kecamatan Katibung Lampung Selatan yang di sejumlah desa pada setiap desa bertanam jarak pagar 50 sampai 80 hektare, masalahnya karena belum ada pabrik biji jarak berskala kecil dan teknik praktis atau teknologi tepat guna untuk mengupasnya!' tukas Umar. 'Kalau itu masalah utamanya, berarti pemerintah benar-benar ngawur ketika tiga tahun lalu menyosialisasikan kepada petani agar menanam jarak pagar!'
'Nasi telah menjadi bubur! Perlu dicatat, jarak pagar kasus kesekian yang mengorbankan petani Lampung! Sebelumnya lewat lembaga UKM, petani Lampung Barat jadi korban kegiatan menanam sisal rami!' timpal Amir. 'Agar jangan terulang, lapisan pemerintah terbawah—kepala desa, camat, dan bupati—diharapkan bisa memagari warganya dari segala jenis pepesan kosong!' ***
Seruan Melawan Kebohongan Rezim SBY!
'PARA tokoh lintas agama Senin menyerukan agar rakyat melawan kebohongan rezim Presiden SBY! Mereka rilis daftar sembilan kebohongan lama dan sembilan kebohongan baru!' ujar Umar. 'Seruan itu Selasa diperkuat oleh aktivis sejumlah LSM di Jakarta dengan daftar kebohongan sama! Salah satu kebohongan lama jumlah orang miskin berkurang jadi 31,02 juta jiwa. Padahal penerima beras rakyat miskin 70 juta jiwa, dan penerima Jamkesmas 76,4 juta jiwa! Cuma bagaimana cara melawan kebohongan, apalagi yang senyata itu?'
'Tentu mendesak rezim SBY supaya jujur!' jawab Amir. 'Memenuhi janjinya! Seperti dalam debat capres 2009, SBY berjanji menyelesaikan kasus lumpur Lapindo, tapi sampai sekarang tak selesai! Lalu, tindak lanjut kepentingan bangsa, seperti audit pemerintah atas PT Freeport mengusulkan renegosiasi, tapi hingga sekarang tak dilakukan!'
'Kalau cuma ngomong mendesak agar rezim penguasa jujur, tidak ingkar janji, menindaklanjuti kepentingan bangsa, mudah! Tapi apa digubris?' timpal Umar. 'Rakyat tidak punya kapasitas dan otoritas untuk mendesak, apalagi mendikte rezim melakukan semua itu! Otoritas untuk itu telah diamanatkan kepada para wakil rakyat di semua tingkat! Kalau wakil rakyat tidak melaksanakan amanat itu, apalagi malah melakukan konspirasi dengan penguasa, rakyat tak bisa apa-apa! Andai pun rakyat demo, kalau pada dasarnya para wakil rakyat dan penguasa sudah tak mau mendengar suara hati nurani rakyat, juga percuma saja!'
'Tak boleh menyerah secara fatalistik begitu sebelum mencoba!' tegas Amir. 'Hak-hak rakyat tak habis dan gugur meski telah diamanatkan kepada wakil rakyat! Melalui berjuang untuk menegakkan hak-haknya yang dicundangi rezim, kekuatan rakyat jadi nyata! Perlawanan seperti itu yang dimaksud tokoh lintas agama!'
'Tapi mayoritas rakyat kini sangat lemah, untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya saja waktunya tak cukup! Tak ada waktu lagi untuk ikut gerakan perlawanan seperti itu!' timpal Umar. 'Sementara retorika—secara implisit artinya berisi kebohongan—penguasa, semakin intensif lewat tayangan iklan berulang-ulang! Retorika itu menyesaki benak rakyat hingga kebohongan jadi terbiasa dan hal yang lazim! Akibatnya, rakyat jadi imun atau kebal dengan kebohongan rezim!'
'Itu dia!' tegas Amir. 'Seruan tokoh lintas agama itu menggugah keimunan rakyat dari kebohongan penguasa, agar rakyat tak mau dibohongi terus! Jika rezim menyadari rakyat tak bisa dibohongi lagi, rezim pun akan berhenti berbohong! Sampai di situ, tercapai tujuan perlawanan rakyat!' ***
"
'Tentu mendesak rezim SBY supaya jujur!' jawab Amir. 'Memenuhi janjinya! Seperti dalam debat capres 2009, SBY berjanji menyelesaikan kasus lumpur Lapindo, tapi sampai sekarang tak selesai! Lalu, tindak lanjut kepentingan bangsa, seperti audit pemerintah atas PT Freeport mengusulkan renegosiasi, tapi hingga sekarang tak dilakukan!'
'Kalau cuma ngomong mendesak agar rezim penguasa jujur, tidak ingkar janji, menindaklanjuti kepentingan bangsa, mudah! Tapi apa digubris?' timpal Umar. 'Rakyat tidak punya kapasitas dan otoritas untuk mendesak, apalagi mendikte rezim melakukan semua itu! Otoritas untuk itu telah diamanatkan kepada para wakil rakyat di semua tingkat! Kalau wakil rakyat tidak melaksanakan amanat itu, apalagi malah melakukan konspirasi dengan penguasa, rakyat tak bisa apa-apa! Andai pun rakyat demo, kalau pada dasarnya para wakil rakyat dan penguasa sudah tak mau mendengar suara hati nurani rakyat, juga percuma saja!'
'Tak boleh menyerah secara fatalistik begitu sebelum mencoba!' tegas Amir. 'Hak-hak rakyat tak habis dan gugur meski telah diamanatkan kepada wakil rakyat! Melalui berjuang untuk menegakkan hak-haknya yang dicundangi rezim, kekuatan rakyat jadi nyata! Perlawanan seperti itu yang dimaksud tokoh lintas agama!'
'Tapi mayoritas rakyat kini sangat lemah, untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya saja waktunya tak cukup! Tak ada waktu lagi untuk ikut gerakan perlawanan seperti itu!' timpal Umar. 'Sementara retorika—secara implisit artinya berisi kebohongan—penguasa, semakin intensif lewat tayangan iklan berulang-ulang! Retorika itu menyesaki benak rakyat hingga kebohongan jadi terbiasa dan hal yang lazim! Akibatnya, rakyat jadi imun atau kebal dengan kebohongan rezim!'
'Itu dia!' tegas Amir. 'Seruan tokoh lintas agama itu menggugah keimunan rakyat dari kebohongan penguasa, agar rakyat tak mau dibohongi terus! Jika rezim menyadari rakyat tak bisa dibohongi lagi, rezim pun akan berhenti berbohong! Sampai di situ, tercapai tujuan perlawanan rakyat!' ***
Langganan:
Postingan (Atom)